Archive for November, 2007
PWK-8: Peran Social Capital dalam Pengembangan Wilayah
Sekali lagi, sebagai planner persinggungan saya dengan social capital adalah dalam rangka mencari faktor penguat kerjasama kelompok, khususnya untuk mendinamisir cluster sebagai andalan pertumbuhan (ekonomi) daerah.
Fukuyama (2001) merumuskan social capital sebagai “norma-norma informal yang mendukung kerjasama antar individu” dalam masyarakat, yang dapat menunjang ekspansi ekonomi lebih besar, karena dukungan radius kepercayaan (trust) yang meluas.
Social capital [...]
PWK-7: Agglomeration, Cluster dan Social Capital
Saya mencoba untuk menarik benang merah antara agglomerasi kegiatan (ekonomi), cluster dan social capital sebagai suatu pendekatan untuk mendorong pertumbuhan daerah. Kalau menggunakan frameworknya Geddes, ini akan membuktikan bahwa unsur Folk – Place – Work, memang selalu saling terkait secara dinamis dalam pengembangan wilayah sepanjang waktu.
Kegiatan ekonomi atau permukiman tidak terjadi di sembarang tempat, begitu [...]
PWK-6: Mengembangkan Daerah Tertinggal (tanggapan)
Terima kasih atas tanggapannya. Sebaiknya kita jangan diskusi berputar-putar. Saya sekarang lebih percaya dengan pola pikir ‘appreciative inquiry’, yaitu melihat sisi baik dari inovasi, pendekatan, strategi yang sedang dan telah diterapkan. Identifikasi mana-mana yang sukses, sedikit sukses, kita angkat, kita pertukarkan. Lalu kita selidiki apa saja ’key-success factors’ (KSF) nya, apakah mungkin direplikasi di tempat [...]
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )PWK-4: Kota Kediri dan Tambang Bukit Asam
Setelah membahas hubungan saling terkait antara FOLK – PLACE – WORK (F-P-W) dan variable masing-masing serta inter-relasi di antaranya, ada baiknya diteruskan dengan Studi Kasus. Kebetulan saya sedang ada kegiatan di Kediri, dan kebetulan di Kompas (16-11-2007) ada dibahas kasus daerah pertambangan Bukit Asam, maka keduanya bisa dijadikan contoh. Keduanya menggambarkan peran kegiatan ekonomi (W) [...]
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )PWK-3
Tahap (Stage) C – Analisis Kondisi Wilayah saat ini
PLACE/Folk (P/f). Morfologi fisik, potensi sumber daya alam, sistem hidrologi, dan letak geografis – adalah faktor-faktor fisik yang mempengaruh keputusan penduduk dalam memilih tempat tinggal dan berusaha. Termasuk faktor fisik tersebut juga kendala-kendala fisik seperti lokasi banjir, longsor, tsunami.
Pada built environment tentunya struktur jaringan jalan, jaringan prasarana [...]
PWK-2
Tahap atau Stage-C pada Diagram menunjukkan komposisi dari F-P-W secara berpasangan menjadi 9 kotak (pasangan).
1. F – folk. Menyangkut penduduk, karena tujuan pembangunan adalah untuk kesejahteraan penduduk. Penduduk juga subyek pembangunan. Merekalah yang membentuk kota/wilayah. Sehingga selain mempelajari variabel jumlah, pertumbuhan, kohort, struktur pekerjaan, pendapatan, gender, sebaran; juga perlu dikaji pola relasi dan preferensi mereka [...]
PWK-1: Pengembangan Wilayah dan Kota (Geddes’ framework)
Pak Hengky dan Rekans. Memenuhi harapan Bapak agar melanjutkan ‘dakwah’ PWK (pengembangan wilayah & kota), ada baiknya kalau saya bawa sedikit referensi, sebagai baseline diskusi.
Konsep yang diringkas dalam Diagram dari Geddes (attached) ini bagus, karena sederhana tapi universal, dan bisa di-update sesuai kondisi wilayah, dari masa ke masa. Materi ini ada di buku “Regional Development [...]
PWK-5: Tantangan Mengembangkan 199 Daerah Tertinggal
Perencana manapun tentunya menghayalkan bisa bekerja tenang menghadapi meja gambar, layar komputer, bemain-main dengan alternatif desain dan dimensi, animasi dan GIS, seperti halnya arsitek bangunan. Namun sayangnya planner tidak merancang tanahnya sendiri, tidak berhadapan dengan seorang bouwheer yang uangnya banyak. Planner berhadapan dengan publik, instansi yang dananya tergantung persetujuan dewan dan panitia anggaran, serta harus [...]
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )Metafora: Kodok Rebus dan Kupu-kupu
Metafora yang disebut Pak Risman, yaitu “kodok rebus” (boiled frog) sungguh mengena. Metafora itu biasanya digunakan di sekolah bisnis untuk menjelaskan “management of change“. Perubahan lambat biasanya melenakan, tahu-tahu stroke. Kalau dosennya iseng suka digan ti dengan pasangan yang pacaran di pantai Ancol malam-malam, gas mobil (CO) bocor sedikit, perlahan-lahan, tahu-tahu pasangan yang asyik itu [...]
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )Dari Urban/Regional Spatial Planning ke U/R Development Planning and Studies
Membaca kesedihan perencana tata ruang, yang menggunakan istilah si Doel “kagak ade matinye“, yang tersirat mengisahkan rintihan “anak Betawi” yang kian terpinggirkan, termarginalkan oleh perubahan jaman. Sekali lagi saya menangkap kebutuhan akan perubahan mindset.
Kenapa saya bilang mindset? Karena planner masih mengukur keberhasilan profesinya dari keberhasilan menata ruang semata. Sementara mereka menyadari tata ruang adalah akibat [...]
« Previous Entries


